BIAR CINTA

Friday, March 20, 2009

SCENE 23

EXT. TAMAN KAMPUS - PAGI

ARIN dan RONI duduk di salah satu bangku di bawah pohon yang rindang. ARIN membuka catatan. RONI duduk di sampingnya sambil menggigit donat.


RONI

Ai, donatnya dimakan, dong!


ARIN

Ntar, deh!


RONI

Jawabanmu ada yang salah? Kok kayaknya sejak keluar ruang ujian lo kusut banget. Apa catatanku nggak lengkap?


Arin meraba-raba ke dalam tasnya. Mengeluarkan rokok lalu menyalakannya.


ARIN

Satu nomor kayaknya salah. Gue nggak tahu salah catatan kamu atau apa. Kamu sendiri tadi bisa?


Roni mengangkat bahu.


ARIN

Kayaknya kamu nggak semangat.


RONI

Kompetisi sebentar lagi.


ARIN

Tim udah latihan maksimal, kan?


RONI

Iya.


Arin menutup buku catatan.


ARIN

Kalau aku boleh nebak, kamu sepertinya tidak begitu memiliki harapan besar untuk menang. Kamu bawa nama universitas, masa harus mengecewakan? Kamu cerita sama aku problem kamu apa, setidaknya kamu nggak naggung beban sendirian.


RONI

Nggak ada masalah, Ai.


ARIN

Kita temenan udah lama. Aku hapal betul gimana kalau kamu lagi punya masalah. Aku memang nggak janji bisa bantu, setidaknya aku bisa ngasih kamu semangat. Itu aja.


RONI

Kalau aku minta sesuatu dari kamu, belum tentu kamu akan mengabulkan. Buat apa aku ungkapkan?


ARIN

Permintaanmu apa?


Roni menggeleng.


ARIN

Hayo, udah main rahasia-rahasiaan, ya?


RONI

Kamu janji bisa menuhin permintaanku?


ARIN

Jangan minta kawin.


RONI

(tertawa)

Bukan, kok. Apa kamu bisa datang waktu kompetisi nanti?


ARIN

Ng...


RONI

Nggak bisa?


ARIN

Aku tanya Alan dulu. Kemungkinan besar dia bisa ngijinin tapi pasti ada ganti ruginya. Hanya itu, nggak ada yang lain?


RONI

Untuk sementara itu dulu. Hubungi aku segera kalau kau bisa. Nanti biar aku yang antar-jemput.


ARIN

Nanti sore aku telfon kamu.


CUT TO: