Friday, December 5, 2008

SCENE 8

EXT. JALANAN – SIANG

ARIN dan ALAN duduk di jok belakang taksi. Jendela di sebelah supir sedikit diturunkan. Suara radio mobil memecang keheningan di antara keduanya.


ALAN

Meski sudah bulan Juni cuacanya masih juga mendung.


Alan menatap Arin.


ALAN

Kamu sepertinya kelelahan.


Arin mengangguk dan membiarkan Alan mengusap kepalanya.


ARIN

Semalam aku nggak bisa tidur nyenyak, Lan. Makanya aku lemes sekarang.


ALAN

Mikirin apa sampai nggak bisa tidur? Kalau tahu begitu aku tidak mengajakmu ngobrol selama penerbangan tadi.


Arin memijiti kepalanya.


ARIN

Nggak apa-apa, LAN.


ALAN

Sekarang masih pening?


ARIN mengangguk pelan. ALAN merangkul. ARIN bersandar di dadanya.

ARIN

Aku cuma tidur dua jam.


Lampu merah. Taksi berhenti.


ALAN

Pertanyaanku belum dijawab. Yang kau pikirkan pastilah bukan masalah kecil, kan?


ARIN

Tentang kita. Aku, kau, dan Fani.


ALAN

Soal itu lagi.


ARIN

LAN, aku nggak bisa terus-menerus begini.


ALAN

(berbisik)

ARIN...


Lampu hijau menyala. Taksi kembali jalan.


ARIN

Pantaskah kita bepergian berdua seperti ini? Aku nggak yakin kalau kau mengatakan kepadanya bahwa aku turut serta denganmu. Kau tidak bilang itu, kan?


ALAN

Dia tidak perlu tahu. Dia cukup merawat anak-anak di rumah dan tidak perlu mencampuri urusan kantorku. Aku mau mengajak siapa itu urusanku, bukan dia.


Arin bersandar ke pintu menjauhi Alan.


ARIN

Begitukah contoh yang kau beri pada anak-anakmu?


ALAN

AI, sudahlah! Alya dan rena itu lebih dekat dengan ibunya. Mereka pun tak pernah merengek kepadaku. Fani yang punya kewajiban penuh untuk mereka. Aku yang cari uang. Begitulah seharusnya.


Arin memandang keluar.


ARIN

Dan putrimu mungkin akan sepertiku, LAN. Membenci ayahnya yang sudah lupa dengan kasih sayang, Lalu lari dari rumah dan memulai hidupnya sendiri di kota besar.


ALAN

AI, kasusmu berbeda. Aku menyayangi mereka, hanya saja aku mencintai perempuan lain jauh sebelum mereka lahir, bukan ibu mereka.


ARIN

Itu tak bisa kau jadikan alasan untuk mengabaikan FANI.


ALAN

Kumohon jangan kaubahas ini lagi, AI.


Arin bertanya pada supir taksi.


ARIN

Masih jauh, pak?


SUPIR

Sudah dekat, Mbak. Setelah jembatan di depan itu.


ALAN menatap ARIN yang kembali memandang keluar.


CUT TO:


0 comments: