EXT. JALANAN – SIANG
ARIN dan ALAN duduk di jok belakang taksi. Jendela di sebelah supir sedikit diturunkan. Suara radio mobil memecang keheningan di antara keduanya.
ALAN
Meski sudah bulan Juni cuacanya masih juga mendung.
Alan menatap Arin.
ALAN
Kamu sepertinya kelelahan.
Arin mengangguk dan membiarkan Alan mengusap kepalanya.
ARIN
Semalam aku nggak bisa tidur nyenyak, Lan. Makanya aku lemes sekarang.
ALAN
Mikirin apa sampai nggak bisa tidur? Kalau tahu begitu aku tidak mengajakmu ngobrol selama penerbangan tadi.
Arin memijiti kepalanya.
ARIN
Nggak apa-apa, LAN.
ALAN
Sekarang masih pening?
ARIN mengangguk pelan. ALAN merangkul. ARIN bersandar di dadanya.
ARIN
Aku cuma tidur dua jam.
Lampu merah. Taksi berhenti.
ALAN
Pertanyaanku belum dijawab. Yang kau pikirkan pastilah bukan masalah kecil, kan?
ARIN
Tentang kita. Aku, kau, dan Fani.
ALAN
Soal itu lagi.
ARIN
LAN, aku nggak bisa terus-menerus begini.
ALAN
(berbisik)
ARIN...
Lampu hijau menyala. Taksi kembali jalan.
ARIN
Pantaskah kita bepergian berdua seperti ini? Aku nggak yakin kalau kau mengatakan kepadanya bahwa aku turut serta denganmu. Kau tidak bilang itu, kan?
ALAN
Dia tidak perlu tahu. Dia cukup merawat anak-anak di rumah dan tidak perlu mencampuri urusan kantorku. Aku mau mengajak siapa itu urusanku, bukan dia.
Arin bersandar ke pintu menjauhi Alan.
ARIN
Begitukah contoh yang kau beri pada anak-anakmu?
ALAN
AI, sudahlah! Alya dan rena itu lebih dekat dengan ibunya. Mereka pun tak pernah merengek kepadaku. Fani yang punya kewajiban penuh untuk mereka. Aku yang cari uang. Begitulah seharusnya.
Arin memandang keluar.
ARIN
Dan putrimu mungkin akan sepertiku, LAN. Membenci ayahnya yang sudah lupa dengan kasih sayang, Lalu lari dari rumah dan memulai hidupnya sendiri di kota besar.
ALAN
AI, kasusmu berbeda. Aku menyayangi mereka, hanya saja aku mencintai perempuan lain jauh sebelum mereka lahir, bukan ibu mereka.
ARIN
Itu tak bisa kau jadikan alasan untuk mengabaikan FANI.
ALAN
Kumohon jangan kaubahas ini lagi, AI.
Arin bertanya pada supir taksi.
ARIN
Masih jauh, pak?
SUPIR
Sudah dekat, Mbak. Setelah jembatan di depan itu.
ALAN menatap ARIN yang kembali memandang keluar.
CUT TO:
0 comments:
Post a Comment